Hubungan
Manusia dengan Takdir
A.
Pembahasan
Hakikat manusia hidup di bumi selain
untuk beribadah kepada Allah SWT juga untuk mempercayai adanya Takdir beserta
rukun-rukun iman yang lainnya. Dimana takdir tersebut tidak bisa dibantah oleh
siapapun termasuk orang yang paling berkuasa di dunia ini dan juga manusia
tersebut tidak bisa lari dari yang namanya Takdir Tuhan walaupun sejauh mungkin
dia berlari. Disamping itu manusia juga makhluk yang musayyar yaitu sama seperti benda, tanam-tanaman, dan hewan yang berarti
tidak mempunyai kebebasan untuk menerima atau menolak apa yang ditakdirkan
untuknya karena semuanya telah di bentuk dan ditentukan misalnya tentang
kelahirannya didunia, gerak-gerik refleks organ tubuhnya, warna kulitnya,
ukuran tubuhnya, kematiannya dan lain-lain sebagainya akan tetapi manusia itu
beda dengan makhluk-makhluk lainnya karena diberi akal. Sedangkan manusia juga
makhluk yang mukhayyar artinya
memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak misalnya tehadap segala sesuatu
yang dia inginkan untuk mengikuti didalam perbuatan yang baik ataupun buruk dan
melakukan sesuatu berdasarkan kemauannya sendiri dalam kehidupannya itu.
Semuanya memang tergantung kepada Allah SWT akan tetapi manusia mempunyai pilihan dalam hidupnya karena Allah telah memberikan sikap Qadariyah yaitu hanya manusialah sepenuhnya yang menentukan perbuatannya sendiri tanpa ada campur tangan dari Allah SWT tersebut tetapi Allah SWT telah menyuruh manusia untuk berbuat kebaikan bukan berbuat kejahatan.
Semuanya memang tergantung kepada Allah SWT akan tetapi manusia mempunyai pilihan dalam hidupnya karena Allah telah memberikan sikap Qadariyah yaitu hanya manusialah sepenuhnya yang menentukan perbuatannya sendiri tanpa ada campur tangan dari Allah SWT tersebut tetapi Allah SWT telah menyuruh manusia untuk berbuat kebaikan bukan berbuat kejahatan.
Takdir adalah suatu ketetapan akan garis
kehidupan seseorang. Setiap orang lahir lengkap dengan skenario perjalanan
kehidupannya ketika dia lahir hingga kematian menjemputnya. Hal ini sesuai
dengan apa yang dinyatakan dalam Al-Qur’an bahwa segala sesuatu terhadap diri
seseorang itu sudah tertulis dalam induk kitab yaitu Al-Qur’an. Namun pemahaman
seperti ini tidak bisa berdiri sendiri atau dikatakan belumlah lengkap, karena
dengan hanya memahami seperti diatas dapat menyebabkan seseorang bingung dalam
menjalani kehidupannya dan mensikapinya dan mempercayai Takdir Tuhan masih
menyisakan berbagai persoalan yang rumit.
Kesadaran manusia untuk beragama
merupakan suatu kesadaran akan kelemahan terhadap dirinya. Terkait dengan
fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan
takdirnya. Manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dan kemampuan
berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan
perencanaan yang canggih. Akan tetapi segala semua yang telah diusahakan
realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya karena sesungguhnya
manusia itu hanya akan tahu takdirnya setelah terjadi.
Oleh sebab itu sekiranya manusia
menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidupnya di dunia ini dan telah
diperintahkan oleh Allah SWT untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha
yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka
Allah SWT melarangnya untuk menepuk dada atau berbangga kalau itu adalah hasil
karyanya sendiri. Bahkan apabila usaha itu gagal dan manusia tersebut bersedih
hati serta bermuram durja dan menganggap dirinya itu adalah sumber kegagalan,
maka Allah juga akan menganggap hal itu adalah suatu kesombongan yang dilarang
juga (Al-Hadid QS. 57: 23)
1. Pengertian Takdir
1. Pengertian Takdir
Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara yang berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti
mengukur, memberi kadar atau ukuran, kekuatan, daya, potensi dan ketetapan yang
sesuai. Semua makna ini merupakan realitas-realitas yang tidak bisa diabaikan,
dan ada didalam kata “takdir”. Realitas-realitas ini saling berelasi membentuk
jaringan dan merupakan unsure-unsur yang membangun makna takdir tersebut.
Jadi “takdir” adalah “hukum Allah”.
Hukum yang ditetapkan berdasarkan pada kekuatan, daya, potensi, ukuran dan batasannya
sendiri yang ada pada sesuatu yang telah ditetapkan hukumnya sehingga apabila
kita berkata “Allah telah menakdirkan demikian,” maka itu berarti “Allah telah
memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal
makhluk-Nya”.
Jika takdir Allah dikaitkan dengan
segala sesuatu di alam semesta ini, maka sesungguhnya setiap unsur terkecil di
alam semesta itu telah ditetapkan hukumnya oleh Allah, berdasarkan daya dan
kekuatan, ukuran dan batasannya sendiri, yang hal ini berarti memiliki sebuah
potensi, sifat dan karakteristiknya masing-masing. Dan perlu kita ketahui
bahwasanya setiap unsur di alam semesta ini tidak berdiri sendiri-sendiri,
melainkan saling mempengaruhi satu dengan lainnya dan membentuk bangunan unsur
yang lain, yang berarti membentuk hukum yang lain pula. Dari penjelasan diatas
dapat diketahu dalam tiga hal, yaitu pertama,
takdir Allah itu begitu rinci dan detail bukan secara global, dan melekat
pada setiap unsur terkecil di alam semesta, kedua,
takdir yang dijelaskan diatas tersebut dipahami oleh para ulama sebagai qadla,
sebenarnya adalah takdir, dan keduanya tidak berbeda karena memiliki arti yang
sama, dan ketiga, takdir Allah selalu
ada pada setiap saat dan setiap tempat, terus berlanjut dan berjalan sejak awal
penciptaan sampai hari kiamat.
Dari sekian banyaknya ayat dalam
Al-Qur’an dapat dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh
Allah. Mereka tidak dapat melampui batas ketetapan itu serta manusia tidak bisa
berlari dari takdirnya itu, sementara Allah SWT telah menuntun dan menunjukkan
mereka yang seharusnya mereka tuju.
Sedangkan percaya terhadap “takdir” Tuhan mengandaikan adanya sebuah proses yang
menyangkut dua hal yang penting, yaitu pertama,
adanya sebuah aktivitas manusia yang dinamakan “percaya” atau “iman”, kedua, pemahaman mengenai “takdir” itu
sendiri sebagai sesuatu yang harus dipahami dan dipercayai. Jadi adanya
aktivitas “percaya” mengandaikan adanya aktivitas yang mendahuluinya yaitu
“memahami” takdir tersebut.
2. Konsep Takdir
2. Konsep Takdir
Islam mengenal takdir dengan sebutan qadha dan qadar. Sebagian ulama menafsirkan qadha sebagai hubungan sebab
akibat dan qadar sebagai ketentuan Allah sejak zaman ajali, dalam arti “qadim” (dahulu) dan “tidak memiliki
permulaan”. Inilah yang dipahami oleh sebagian besar ualama salaf dan Ahlu
Sunnah wal Jama’ah. Jadi lebih singkatnya qadha adalah pelaksanaan dalam
operasional yang dipilih oleh manusia untuk selanjutnya menemui qadarnya dan
akhirnya menentukan nilai dari mala perbuatannya itu.
Takdir adalah suatu yang sangat ghoib
dan abstrak, sehingga manusia tak mampu mengetahui takdirnya sedikitpun dan
bahkan takdir Allah itu hanya bisa diketahui oleh manusia setelah mereka masuk
surga. Akan tetapi banyak takdir Allah yang dapat diketahui oleh manusia
melalui berbagai macam penelitian dan penemuan-penemuan ilmiahnya tentang alam
semesta, baik dalam bidang fisika, kimia, biologi, astronomi dan lainnya, yang
ternyata setiap unsur di alam semesta ini memiliki hukumnya masing-masing dan
kesemuanya berjalan sesuai dengan hukum atau takdir Allah misalnya air yang
mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Oleh karena itu yang dapat
kita lakukan hanya berusaha, dan seperti kalimat yang sering kita dengar yaitu
“Tugas kita sebagai manusia hanyalah senantiasa berusaha dan hasilnya tersebut
biarlah Allah yang menentukan”, yang menegaskan pentingnya mengusahakan qadha
untuk selanjutnya menemui qadarnya. Dan ada tiga hal yang sering-sering disebut sebagai takdir, yaitu jodoh, rezeki dan
kematian.
Taqdir
itu memiliki empat tingkatan yang semuanya wajib diimani, yaitu :
a. Al-‘Ilmu,
Bahwa seseorang harus menyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun terperinci. Dia mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi karena segala sesuatudiketahu oleh Allah, baik yang detail maupun jelas atas setiap gerak-gerik makhluknya dan tidak satu pun yang luput dari ilmu Allah SWT.
Bahwa seseorang harus menyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun terperinci. Dia mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi karena segala sesuatudiketahu oleh Allah, baik yang detail maupun jelas atas setiap gerak-gerik makhluknya dan tidak satu pun yang luput dari ilmu Allah SWT.
b. Al-Kitabah,
Bahwa Allah mencatat semua itu dalam Lauhil Mahfuz dan tulisan itu tetap ada sampai hari Kiamat. Walaupun itu telah terjadi pada masa yang lalu, masa sekarang dan apa yang akan terjadi pada masa yang akan mendatang.
Bahwa Allah mencatat semua itu dalam Lauhil Mahfuz dan tulisan itu tetap ada sampai hari Kiamat. Walaupun itu telah terjadi pada masa yang lalu, masa sekarang dan apa yang akan terjadi pada masa yang akan mendatang.
c. Al-Masyi’ah,
Kehendak Allah ini bersifat umum karena Allah mempunyai kehendak terhadap segala sesuatu yang terjadi di bumi dan di langit dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Didalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan masyiatullah yang mutlak yang berarti kalau Allah menghendaki sesuatu tidak ada yang bisa menghalangi kehendank-Nya tersebut dan begitu juga sebaliknya.
Kehendak Allah ini bersifat umum karena Allah mempunyai kehendak terhadap segala sesuatu yang terjadi di bumi dan di langit dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Didalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan masyiatullah yang mutlak yang berarti kalau Allah menghendaki sesuatu tidak ada yang bisa menghalangi kehendank-Nya tersebut dan begitu juga sebaliknya.
d. Al-Khalqu,
Bahwa tidak sesuatu pun di langit dan di bumi melainkan Allah sebagainya penciptanya, pemiliknya, pengaturnya dan menguasainya.
Bahwa tidak sesuatu pun di langit dan di bumi melainkan Allah sebagainya penciptanya, pemiliknya, pengaturnya dan menguasainya.
B. Konsep Takdir dalam Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia.
Manusia berbeda dengan batu, tumbuhan
maupun binatang walaupun pada hakikatnya manusia itu sama seperti makhluk
lainnya akan tetapi realitasnya berbeda yaitu manusia diberikan akal dimana itu
membuat perbedaan yang sangat jelas sekali. Karena makhluk lainnya selain
manusia seperti batu misalnya itu ketika menggelinding dari sebuah ketinggian
bergerak berdasarkan tarikan gravitasi bumi tanpa ikhtiar sedikitpun begitu pula
sama halnya dengan tumbuhan yang tumbuh hanya dibawah kondisi tertentu atau
sebagai mana binatang yang bertindak berdasarkan naluri alamiahnya.
Kaitan dengan peningkatan mutu sumber
daya manusia, takdir adalah pengetahuan sempurna yang dimiliki Allah tentang
seluruh kejadian pada masa lalu atau masa depan. Kebanyakan orang
mempertanyakan bagaimana Allah dapat mengetahui peristiwa yang belum terjadi,
dan ini membuat mereka gagal dalm memahami kebenaran takdir. “Kejadian yang
belum terjadi itu adalah kejadian yang belum dialami manusia dan Allah tidak
terikat dengan segala sesuatu termasuk ruang dan waktu, karena Dialah pencipta
keduanya. Oleh sebab itu, masa lalu, masa mendatang dan sekarang, seluruhnya
sama bagi Allah; bagi-Nya segala sesuatu telah berjalan dan telah selesai
dengan sendirinya.
Perlu diperhatikan pula kedangkalan dan
penyimpangan pemahaman masyarakat tentang takdir. Mereka berkeyakinan bahwa
Allah telah menentukan “takdir” setiap manusia sebagaimana pendapat golongan
Jabariah yang berarti bahwa setiap perbuatan manusia itu (detik demi detik,
menit demi menit, jam demi jam, dan tahun demi tahun) sejak masih di dalam
kandungan sampai ia meninggal pun sudah diciptakan oleh Allah dan hal ini telah
menafikan keberadaan manusia yang berada dalam pengaruh ruang dan waktu.
Sebaliknya, kalau manusia memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk menciptakan
perbuatannya sebagaimana pendapat golongan Qadariah, hal ini terkesan dan
terbatas pada saat manusia sudah dewasa (aqil,
baligh) yang sudah mampu dan bisa membedakan antara yang baik dan yang
buruk sementara pendapat lain mengatakan kalau takdir ini terkadang dapat
diubah oleh manusia itu sendiri. Orang yang kembali dari gerbang kematian tidak
mati karena ia ditakdirkan untuk tidak mati pada saat itu. Selanjutnya ketika
mereka berkata “saya telah mengalahkan takdir saya sendiri” berarti ia telah menipu
diri sendiri. Karena pendapat mereka itulah yang membuat mereka berkata
demikian dan mempertahankan pemikiran seperti itu.
Memahami konsep takdir sebagai sebuah
skenario yang telah ditetapkan oleh Tuhan itu adalah suatu hal yang
meniscayakan ketiadaan keadilan Tuhan dan sebuah konsep dari
pertanggungjawabannya. Takdir itu sendiri tidak lain sebagai sebuah prinsip
akan terbinanya sistem kausalitas umum (bahwa akibat itu pasti berasal dari
sebab-sebab khususnya, dimana rentetan kausalitas tersebut berakhir pada sebab
dari sesuatu yakni Tuhan) atas dasar pengetahuan dari kehendak ilahi yang Maha
Bijak. Takdir Takwini (ketetapan penciptaan) tiada lain merupakan sebuah
prinsip yang mengatasi system penciptaan alam dan Takdir Tasyini (ketetapan
syariat) merupakan sebuah prinsip yang mengatur system gerak individu maupun
masyarakat dari segi sosiologis dan spiritual.
Artinya, ikhtiar itu menjadi berarti
jika hanya pada realitas itu terdapat dalam hukum-hukum yang pasti (takdir)
atau dengan kata lain ikhtiar pada awalnya merupakan sebuah potensial dan ia
akan menjadi aktual bilamana terdapat adanya dan diketahuinya takdir tersebut.
Karena itu pula dapat dikatakan “tanpa takdir maka pasti tidak ada yang namanya
takdir”.
Untuk meningkatkan mutu sumber daya
manusia tersebut sudah seharusnya lah kita selalu berusaha dan berdo’a akan
tetapi janganlah hanya mengandalkan do’a saja ataupun hanya berusaha saja.
Antara usaha dan do’a haruslah seimbang dan apabila keduanya tidak ada maka
tidak ada artinya. Ketiadaan potensi ikhtiar pada manusia menjadikan takdir itu
tidak akan bermakna atau berlaku begitupun sebaliknya.
Dan takdir manusia itu baik dari umur,
kematiannya, rezeki, susah, bahagia dan perbuatannya itu sangatlah dipengaruhi,
ditentukan dan dibangun oleh begitu banyak hokum atau takdir sesuatu yang ada
di alam semesta ini, yang dimana mempengaruhi dan membentuk takdir manusia
tersebut. Kemudian disetiap keadaan manusia adalah suatu takdir yang dibentuk
oleh takdir-takdir yang lain.
C.
Kesimpulan
Takdir adalah pengetahuan abadi
kepunyaan Allah. Dia yang memahami waktu sebagai kepastian kejadian tunggal dan
Dia yang meliputi keseluruhan ruang dan waktu tersebut. Bagi Allah, segalanya telah
ditentukan dan sudah selesai dalam sebuah takdir. Berdasarkan hal-hal yang
diungkapkan dalam Al-Qur’an, kita juga fapat memahami bahwa waktu bersifat
tunggal bagi Allah. Kejadian yang bagi kita terjadi di masa mendatang, digambarkan
dalam Al-Qur’an sebagai kejadian yang telah lama berlalu.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam
raya ini, dan sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu, dan itulah
yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa adanya takdir, termasuk
manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan
Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam istilah
sunnatullah, atau yang sering secara salah kaprah disebut sebagai “hukum-hukum
alam”.
Manusia mempunyai kemampuan terbatas
sesuai dengan ukuran yang diberikan oleh allah kepadanya contohnya manusia
tidak dapat terbang dengan sendirinya. Ini merupakan salah satui ukuran atau
batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Oleh sebab itu sekiranya manusia itu
memiliki suatu perubahan kondisi dalam menjalani hidupnya didunia ini,
diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk bisa merubah kondisinya
tersebut.
Daftar Pusaka
Murtadha
Muthahhri, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Jakarta : Pustaka Zahra, 2003
Drs.
Musthofa, Drs. H.M Kholili, M.si, Karwadi, M.Ag, Tauhid, Yogyakarta : Pokja
Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2005
Prof.
Dr. Hamka, Pelajaran Agama Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1956
Drs.
Yunahar Ilyas, Lc, Kuliah Aqidah Islam, Yogyakarta : Lembaga Pengkajian dan
Pengamalan Islam (LPPI), cet: 1, Maret 1992.
Izin share
BalasHapusBagi seorang muslim dan muslimah sudah seharusnya Kita memiliki semangat dan ghirah dalam mempelajari bahasa arab. Terlebih lagi bahasa arab dan wasilah bagi kita dalam mengenal ilmu syari.
BalasHapuspengertian takdir Kaifa Haluk Artinya Ufa Bunga SMartphone